SELAMAT DATANG

Sabtu, 08 Oktober 2011

PUPUK ORGANIK CAIR (MOL)

Pengertian
Larutan MOL (Mikro Organisme Lokal) adalah larutan hasil fermentasi yang berbahan dasar dari berbagai sumber daya yang tersedia setempat baik dari tumbuhan maupun hewan. Larutan MOL mengandung unsur hara mikro dan makro dan juga mengandung bakteri yang berpotensi sebagai perombak bahan organik dalam tanah, perangsang pertumbuhan pada tanaman, dan sebagai agens pengendali hama dan penyakit tanaman.

Indonesia adalah negara agraris yang berbasis pada sektor pertanian. Kebijakan revolusi hijau (green revolution) ditawarkan pemerintah awal 1970-an memberikan efek yang cepat pada peningkatan produksi pertanian. Kebijakan revolusi hijau telah mengubah pola pertanian lokal menjadi pola pertanian modern yang menggunakan pupuk dan pestisida kimia. Namun hal ini menimbulkan dampak negatif pada kaum petani baik secara ekosistem, ekonomi, dan sosial. Hal ini mengindikasikan pengetahuan para petani masih rendah untuk menciptkan pertanian yang ramah lingkungan dan berkelanjutan. Dari permasalahan yang ada, kita mengajak kaum petani untuk belajar lebih mandiri dan berfikir kritis terhadap berbagai permasalahan pertanian tersebut.
Salah satu cara menggugah kemandirian petani yaitu dengan memberdayakan pembuatan mikroorganisme lokal (MOL) di kalangan petani yang selanjutnya dapat digunakan sebagai dekomposer maupun pupuk organik cair di lahan pertaniannya sehingga mampu menekan biaya produksi dan meningkatkan kualitas dan kuantitas hasil pertanian. Akibat penggunaan pupuk kimia serta keuntungan penggunaan pupuk organik, meningkatkan pengelolaan, ketrampilan serta kemandirian petani dalam upaya pemanfaatan bahan-bahan di sekitar petani sebagai mikroorganisme lokal. Memperkenalkan cara pembuatan mikroorganisme lokal sehingga dapat digunakan sebagai dekomposer dan pupuk cair.

Dengan pengetahuan pembuatan MOL para petani dan warga masyarakat dapat mengaplikasikan MOL untuk pelaksanaan kegiatan konsep rumah tangga pemanfaatan mikroorganisme (mikroba) untuk meningkatkan produksi pertanian. Dengan penambahan larutan MOL ini sehingga pupuk yang dihasilkan memiliki nilai lebih. Pertanian rama lingkungan yang banyak dipromosikan saat ini disambut baik oleh banyak kalangan. Salah satu budidaya padi yaitu, SRI adalah pemberian bahan organik pada lahan pertanian. Dalam pelaksanaannya petani dituntut dapat membuat larutan MOL yang dapat digunakan sebagai dekomposer dan pupuk cair sehingga usaha tani dapat lebih efisien dan ramah lingkungan.

Situasi Terkini
Peristiwa kelangkaan pupuk kimia yang sering terjadi beberapa waktu ini pada musim tanaman menyebabkan petani harus mencari ke kota lain, memesan terlebih dahulu di kios atau toko pertanian, dan berani membeli mahal demi kelanjutan produksi tanamannya. Ini merupakan indikasi bagaimana pupuk kimia sudah merupakan kebutuhan dasar bagi para petani. Selain terjadi kelangkaan pupuk, semakin melambungnya harga pupuk kimia belakangan ini, memang menjadi kendala tersendiri bagi petani. Namun kondisi ini bertambah berat, karena petani masih sangat bergantung untuk menggunakan pupuk jenis ini. Petani menyadari jika kebutuhan hara tanaman tidak dipenuhi maka hasil panen yang diperoleh akan menurun, oleh karena itu tidak heran kalau petani menjadi panik karena terjadi kelangkaan pupuk. Para petani saat ini juga tengah diresahkan oleh keberadaan pupuk palsu yang beredar luas di pasaran dan bahkan dijual oleh agen pupuk resmi. Parahnya pupuk palsu tersebut baru diketahui palsu setelah digunakan untuk memupuk tanaman karena mengakibatkan tanaman padi tumbuh menjadi kerdil. Sekilas pupuk palsu tidak jauh berbeda dengan pupuk asli. Namun diketahui bahwa butiran pupuk palsu ini sangat keras dan tidak pecah jika diremas. Petani lebih memperhatikan kepentingan sesaat daripada kepentingan jangka panjang. Pemakaian pupuk kimia terutama dalam jumlah berlebihan di atas takaran rekomendasi selama ini sudah mulai memberikan dampak lingkungan yang negatif seperti kualitas lahan sawah menurun, cepat mengeras, daya serap air dan keberadaan hara berkurang, rentannya tanah terhadap erosi, menurunnya permeabilitas tanah, menurunnya populasi mikroba tanah, dan sebagainya.

Dampak pemakaian pupuk kimia mempunyai efek yang cepat dalam meningkatkan produksi tetapi dengan kadar yang tidak seimbang. Hal tersebut menyebabkan kemampuan lahan itu over dosis dan lahan menjadi sakit. Menurut Kartiadi (2009), menegaskan bahwa seberapa tinggi lahan pertanian sakit karena pemakaian pupuk kimia adalah melalui indikator kesuburan tanah yaitu kandungan C-organik. Komponen C-organik dari 65 % tanah persawahan di Indonesia di bawah 1 %, yang harusnya di atas 2 %. Artinya tanah itu sudah sangat rusak dan kelelahan. Dari berbagai akibat penggunaan pupuk kimia tersebut masalah yang timbul antara lain:

Tanaman menjadi sangat rawan terhadap hama, meskipun produktivitasnya tinggi namun tidak memiliki ketahanan terhadap hama,.
Pembodohan terhadap petani yang diindikasikan dengan hilangnya pengetahuan lokal dalam mengelola lahan pertanian dan ketergantungan petani terhadap paket teknologi pertanian produk industri.
Pada saat ini petani lebih suka menggunakan pupuk kimia dibandingkan pupuk organik.
Pupuk organik bersifat voluminous karena kandungan haranya rendah, sehingga memerlukan tambahan biaya untuk transportasi, pemrosesan, dan aplikasi kalau mendatangkan dari tempat lain.
Bahan organik yang sudah tersedia tentunya juga harus diproses terlebih dahulu menjadi kompos.


Efek dari penggunaan pupuk organik lambat, tidak seperti pupuk kimia yang respon tanaman berlangsung cepat. Dengan fakta itu petani mencoba memberdayakan penggunaan mikroorganisme lokal ini untuk meningkatkan kesuburan tanah dan tentunya peningkatan kualitas hasil pertanian. Selain itu, dengan adanya pengetahuan pembuatan Mikro Organisme Lokal (MOL) tersebut para petani akan lebih mandiri karena dapat membuat pupuk kompos sendiri dengan bantuan MOL.
Peran MOL dalam kompos, selain sebagai penyuplai nutrisi juga berperan sebagai komponen bioreaktor yang bertugas menjaga proses tumbuh tanaman secara optimal. Fungsi dari bioreaktor sangatlah kompleks, fungsi yang telah teridentifikasi antara lain adalah penyuplai nutrisi melalui mekanisme eksudat, kontrol mikroba sesuai kebutuhan tanaman, menjaga stabilitas kondisi tanah menuju kondisi yang ideal bagi pertumbuhan tanaman, bahkan kontrol terhadap penyakit yang dapat menyerang tanaman (Purwasasmita, 2009). Informasi terkait pemanfaatan mikroorganisme lokal ini diperoleh dalam program pendampingan petani SLPTT (Sekolah Lapang Pengeloaan Tanaman Terpadu).


Solusi yang pernah di tawarkan
Penggunaan pupuk kimia oleh para petani yang berlebihan menjadikan produsen pupuk kimia kesulitan dalam memenuhi permintaan akan pupuk oleh karena itu munculah pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab yang memperjualkan pupuk palsu. Kehadiran pupuk palsu ini meresahkan petani oleh karena itu ada beberapa petani yang mencoba menggunakan pupuk organik agar tanamannya tetap menghasilkan.
Penggunaan pupuk organik ini tidak dilaksanakan secara kontinyu karena petani belum dapat secara mandiri untuk memproduksinya. Berdirinya pabrik-pabrik pupuk yang berbasis organik, pabrik ini menawarkan berbagai macam jenis pupuk organik yang berbahan dasar mikroba. Para petani dapat memperoleh pupuk organik secara cepat dan mudah pengaplikasiannya, akan tetapi pupuk organik buatan pabrik ini memiliki kelemahan yaitu harganya yang mahal dan memerlukan dalam jumlah yang besar. Penggunaan pupuk organik memerlukan biaya yang sangat besar, sehingga dapat disimpulkan bahwa penggunaan pupuk organik sama mahalnya dengan menggunakan pupuk kimia karena harga pupuk organik kemasan yang mahal. Kebanyakan petani membeli pupuk organik yang sudah bermerek atau sudah ada di pasaran, untuk proses pembuatanya sendiri, petani tidak tahu sama sekali
Harga pupuk organik yang mahal menyurutkan niat para petani untuk sepenuhnya menggunakan pupuk organik. Para petani tidak mengetahui bahwa pupuk organik dapat diprodukasi sendiri dengan bahan-ahan yang ada di sekitarnya. Pada dasarnya pupuk organik yang berbahan dasar mikroorganisme mudah diproduksi sendiri, karena mikroorganisme-mikroorganisme yang berguna banyak terdapat di alam sekitar kita. Kehadiran mikroba berguna ini semakin berkurang karena dampak penggunaan pupuk kimia yang berlebihan oleh para petani sehingga habitat mikroorganisme ini menjadi terganggu. Oleh karena itu kita harus mempertahankan keberadaan mikroorganisme berguna ini dengan cara memperbanyaknya dan mendayagunakannya untuk memperbaiki ekosistem yang telah rusak. Dengan memperbanyak mikroorganisme dan mengembalikannya ke alam diharapkan ekosistem terutama yang di dalam tanah menjadi sehat kembali sehingga dapat mendukung pertumbuhan tanaman.

Solusi yang Diajukan
Larutan MOL (Mikro Organisme Lokal) adalah larutan hasil fermentasi yang berbahan dasar dari berbagai sumber daya yang tersedia setempat. Larutan MOL mengandung unsur hara mikro dan makro dan juga mengandung bakteri yang berpotensi sebagai perombak bahan organik, perangsang pertumbuhan, dan sebagai agens pengendali hama dan penyakit tanaman, sehingga MOL dapat digunakan baik sebagai pendekomposer, pupuk hayati, dan sebagai pestisida organik terutama sebagai fungisida (Purwasasmita, 2009).
Keunggulan penggunaan MOL yang paling utama adalah murah bahkan tanpa biaya. Dengan memanfaatkan bahan-bahan yang ada di sekitar, petani dapat kreatif membuat MOL dari bahan-bahan seperti buah-buahan busuk (pisang, pepaya, mangga, dan lain-lain), rebung bambu, pucuk tanaman merambat, tulang ikan, keong, urine sapi, bahkan sampai urine manusia, darah hewan, bangkai hewan, air cucian beras, dan sisa makanan. Menurut Amalia (2008), cara membuat MOL itu mudah, semua yang ada di sekitar kita dapat dipakai, semua bahan dicampur dengan larutan yang mengandung glukosa seperti air nira, air gula, atau air kelapa. Lalu ditutup dengan kertas, dibiarkan sampai 7 hari. Setelah itu dipakai untuk menyemprot ke sawah. Menurut Hadinata (2008), secara terperinci bahan utama dalam MOL terdiri dari 3 jenis komponen antara lain:
Karbohidrat: air cucian beras (Tajin), nasi bekas (basi), singkong, kentang, gandum. Yang paling sering digunakan adalah dengan air tajin.
Glukosa: dari gula merah diencerkan dengan air, cairan gula pasir, gula batu dicairkan, air gula, dan air kelapa.
Sumber Bakteri: keong mas, kulit buah-buahan misalnya tomat, pepaya, dan sebagainya, air kencing, atau apapun yang mengandung sumber bakteri.

Dari macam bahan sumber bakteri yang telah disebutkan, ada hal yang menarik yaitu bahan MOL dari keong mas. Keong mas merupakan salah satu hama penting pada tanaman padi di Indonesia. Tingkat serangan hama tersebut tergolong cukup tinggi. Menurut Pitoyo (2006), perkembangan hama ini sangat cepat, dari telur hingga menetas hanya butuh waktu 4 - 7 hari. Disamping itu, satu ekor keong mas betina mampu menghasilkan 15 kelompok telur selama satu siklus hidup (60-80 hari), dan masing-masing kelompok telur berisi 300-500 butir. Hal ini sangat menguntungkan apabila para petani dapat memanfaatkannya sebagai MOL, selain mengurangi keberadaan hama pengganggu di areal pertaniannya juga mampu menciptakan produk yang berguna.
Berikut ini berbagai contoh larutan mikroorganisme lokal yang sudah dibuat dan diaplikasikan para petani antara lain :
MOL buah-buahan untuk membantu malai (bulir padi) agar lebih berisi.
MOL daun cebreng untuk penyubur daun tanaman, disemprotkan pada padiumur 30 HST.
MOL bonggol pisang untuk dekomposer saat pembuatan kompos, dan disemprotkan pada tanaman padi 10, 20, 30 dan 40 HST.
MOL sayuran untuk merangsang tumbuhnya malai (bulir padi), disemprotkan pada usia padi 60 HST. MOL rebung bambu untuk merangsang pertumbuhan tanaman, disemprotkan pada usia padi 15 HST.
MOL limbah dapur untuk memperbaiki struktur fisik, biologi, dan kimia tanah, disemprotkan pada saat olah tanah.
MOL protein untuk nutrisi tambahan pada tanaman, disemprotkan pada usia 15 HST.
MOL nimba dan surawung untuk mencegah penyakit tanaman.

Menurut Kurnia, (2003), telah melakukan analisis atas sampel larutan MOL maja dan larutan MOL air kelapa dan sampah dapur. Ditunjukkan larutan MOL maja mengandung bacillus sp, sacharomyces sp, azospirillum sp, dan azotobacter. MOL sampah dapur mengandung pseudomonas, aspergilus sp, dan lactobacillus sp. Sementara itu, Hersanti (2007) mengisolasi bakteri dari berbagai larutan MOL. Bakteri yang berhasil diisolasi ada 19 isolat terdiri atas 3 isolat dari MOL daun cebreng, 1 isolat dari MOL pucuk waluh, 7 isolat dari MOL berenuk, 1 isolat dari NOL rebung, 3 isolat dari MOL bonggol pisang, 4 isolat dari MOL pisang. Karakterisik isolat bakteri dilakukan dengan mengamati morfologi koloni, yaitu warna, bentuk, permukaan, dan tepi koloni. Morfologi koloni 19 isolat bakteri diperoleh pada media nutrien agar.
Berdasarkan gagasan yang diajukan penulis terkait pemberdayaan Mikro Organisme Lokal (MOL) di kalangan petani ada beberapa pihak yang dapat membantu mengimplementasikan gagasan yang diajukan tersebut antara lain :
Peneliti (Universitas) : Hal ini menarik untuk diteliti terkait jenis mikroorganisme apa saja yang terdapat dalam masing-masing bahan sumber MOL (Mikro Organisme Lokal) selain pustaka yang sudah diketahui. Dengan adanya penelitian tersebut sehingga akan diketahui manfaat yang lebih spesifik dari masing-masing sumber MOL karena sudah diketahui jenis mikroorganisme yang terkandung di dalamnya.
Dinas Pertanian : diharapkan Dinas Pertanian mampu membuat kebijakan untuk para petani terkait pemberdayaan pupuk organik secara mandiri melalui program-program sekolah lapang yang sudah dibiayai pemerintah.

Hal ini sangat diperlukan sebagai upaya menciptakan kemandirian petani, revitalisasi lahan pertanian, serta mempopulerkan pertanian organik sehingga para petani dapat memanfaatkan bahan-bahan di sekitar mereka untuk membuat pupuk dan dekomposer.
Organisasi Petani: beberapa organisasi petani yang telah ada antara lain adalah Paguyuban Petani PHT, Ikatan Petani PHT Indonesia, Pos IPAH (Pos Pelayanan Agens Hayati, Sumatera Barat), Puspahayati (Pusat Pengembangan Agens Hayati, Jawa Tengah), dan PPAH (Pusat Pelayanan Agens Hayati, Jawa Timur). Dengan adanya kerja sama dengan organisasi tersebut diharapkan organisasi tersebut sebagai pelopor untuk mewujudkan petani mandiri dengan program pembuatan pupuk organik dengan memanfaatkan MOL.
LSM (Lembaga Swadaya Masyarakat) : Keberadaan LSM terkait inovasi pelatihan pembuatan MOL adalah sebagai fasilitator, motivator, danpengawasan melalui tenaga-tenaga pendamping pada tiap kelompok tani. Dengan adanya tenaga-tenaga pendamping ini diharapkan para petani mendapatkan informasi yang lebih detail adanya teknologi dan inovasi baru di dunia pertanian.
Lembaga pemerintahan : Dalam pengadaan program pelatihan kepada petani perlu adanya dukungan dari lembaga pemerintahan khususnya lembaga pemerintahan desa. Dukungan lembaga pemerintahan tersebut dapat berupa sumbangan materiil maupun spiritiual. Dengan adanya dukungan dan peran serta lembaga pemerintahan maka pelatihan dan pemberdayaan petani dan masyarakat terkait inovasi baru yang ditawarkan dapat terlaksana.
Penyuluh (Petugas Penyuluh Lapangan) : Para penyuluh mengadakan pelatihan pembuatan MOL sehingga para petani mampu mandiri dalam membuat pupuk kompos. Hal ini dikarenakan MOL dapat berfungsi sebagaidekomposer. Dalam hal ini PPL aktif melakukan pendampingan petani agar.
Dari beberapa gagasan yang telah dipaparkan, dapat disimpulkan bahwa banyak keuntungan yang diperoleh dari penggunaan MOL (Mikro Organisme Lokal). Dimulai dengan memanfaatkan limbah organik rumah tangga, kemudian menambahkan MOL ke dalam pupuk organik, pemanfaatan bahan-bahan di sekitar petani sebagai contoh keong mas yang merupakan salah satu hama tanaman padi dapat digunakan sebagai sumber MOL, selanjutnya penggunaan pupuk organik di lapangan sejalan dengan program SRI dari pemerintah.
Beberapa keuntungan yang diperoleh dari penggunaan MOL (Mikro Organisme Lokal) ini antara lain :
Sederhana dan mudah dipraktekkan.
Waktu relatif singkat.
Murah (bahkan gratis) karena memanfaatkan bahan-bahan yang kurang dimanfaatkan dan merugikan.
Pupuk organik yang dihasilkan mengandung unsur komplek dan mikroba bermanfaat.
Ramah lingkungan.
Mendukung program pertanian pemerintah.
Biota tanah terlindungi.
Memperbaiki kualitas tanah dan hasil panen.
Produk pertanian aman dikonsumsi.

Kegunaan MOL
Pengganti pupuk cair untuk menyuburkan tanah sebagai pupuk daun, batang, dan buah
Sebagai Zat pengatur Tumbuh.
Sebagai dekomposer untuk mempercepat pengomposan pada bahan organik.
Cara penggunaannya dicampurkan dengan air dengan perbandingan 5:1.
Kemudian disemprotkan ke semua jenis tanamannya.
Siramkan pada bahan kompos yang sudah disiapkan.




Bahan Dasar MOL dan Cara Pembuatannya.

MOL Buah Maja
Cara Pembuatan:
Daging buah maja dihaluskan dan masukan kedalam drum/tong plastik. Campurkan dengan 30 liter air beras dan 20 liter air. Tutup rapat dengan plastik. Masukan slang plastik (diameter 0,5 cm) sambungkan kedalam botol plastik yang sudah diisi air tawar. Simpan selama 15 hari.

Cara Penggunaan:
1.Pengomposan; 1 liter MOL buah maja dicampur dengan 5 liter air tawar, tambahkan 1 ons gula merah dan aduk hingga rata, siramkan pada bahan organik yang akan dikomposkan hingga rata.
2.Penggunaan pada tanaman; penyemprotan dilakukan pagi/sore hari dengan 400 cc MOL ditambah dengan 14 liter air tawar, aduk dengan rata. Disemprotkan pada umur tanaman padi: 10, 20, 30, 40 hari dan fase akhir pembungaan (generatif)
Bahan:
5 buah maja/labu kayee yang matang
30 liter air beras
20 liter air kencing sapi/kerbau/
kambing atau kelinci (tidak diharuskan)
Kegunaannya: Utuk perangsang Tumbuh.

MOL Bongkol Pisang.
Cara Pembuatan :
Bongkol pisang ditumbuk/dihaluskan, kemudian dimasukan bersama air beras, Masukan gula merah sambil diaduk rata, Simpan dit drum/tong plastik, Tutup dengan plastik, beri lubang udara dengan cara memasukan slang plastik yang dihubungkan dengan botol yang sudah terisi air, Biarkan selama 15 hari

Cara Pengunaan
1.Pengomposan; dapat digunakan sebagai dekomposer dengan konsentrasi 1:5 (artinya 1 liter cairan MOL dicampur dengan 5 liter air tawar), tambahkan gula merah 1 ons dan aduk hingga rata, siramkanpada saat proses pembuatan kompos.
2.Penggunaan pada tanaman; semprotkan pada berbagai jenis tanaman dengan konsentrasi 400 cc dicampur dengan 14 liter air tawar. Pada tanaman padi, sejak fase vegetatif hingga generatif pasca tanam yaitu hari ke 10, 20, 30 dan 40 Semprotkan pada pagi/sore hari, hindari penyemprotan pada siang hari.
Bahan:
Bongkol pisang
Gula merah 1 Kg
Air beras 10 liter


MOL Hijauan Sayuran Segar
Cara Pembuatan:
Limbah sayuran diiris-iris hingga menjadi potongan-potongan kecil dan masukan kedalam drum plastik, setiap lapisan setebal 20 Cm ditaburkan garam sampai rata, lanjutkan dengan berlapis-lapis seperti diatas sampai kedua kedua bahan habis. Tambahkan air cucian beras sebanyak 10 liter. Drum ditutup rapat dengan plastik dan diatasnya diberi air sehingga tampak plastik cekung yang terisi air. Setelah 3-4 minggu baru dibuka, akan tampak cairan berwarna kuning kecoklatan, baunya segar dan jika diukur PH nya 3-5. Tambahkan gula sebanyak 2 ons dan diaduk hingga rata.

Cara Penggunaan:
1.Pengomposan; jika akan digunakan untuk mempercepat penghancuran bahan organik,
campurkan 1 liter cairan ditambah 10 liter air tawar ditambahkan gula 2 ons dan cairan siap
disiramkan pada bahan organik yang akan dikomposkan.
2.Penyemprotan pada tanaman; 400 cc cairan dicampur dengan14 liter air tawar (1 tangki handsprayer) dan diaduk rata, semprotkan pada pagi/sore hari. Digunakan pada tanaman padi pasca tanam yaitu hari ke 10, 20, 30 dan 40.

Bahan:
100 Kg limbah sayuran hijau,
Garam; 5% dari berat bahan (5 Kg),
Gula merah 2% dari cairan setelah diproses selama 24 hari

Peralatan:
Drum plastik ukuran 200 liter
Plastik transparan

MOL Keong Mas
Cara Pembuatan:
Keong mas di masukan ke dalam tong plastik. Campurkan dengan buah maja yang sudah dihaluskan (kalau ada) atau gula merah yang telah dihaluskan/air tebu. Masukan air kelapa dan aduk sampai merata. Kemudian tutup rapat dengan plastik dan berikan slang plastik sambungan pada botol yang telah berisi air. Biarkan selama 15 hari.

Cara Penggunaan:
1.Pengomposan; Cairan/ekstrak (MOL) keong mas dicampur air dengan konsentrasi 1:5 (artinya 1liter cairan MOL dicampur dengan 5 liter air tawar), aduk hingga rata dan siramkan pada bahan bahan organik yang akan dikomposkan.
2.Penggunaan pada tanaman; semprotkan pada berbagai jenis tanaman dengan konsentrasi 400 cc dicampur dengan 14 liter air tawar. Pada tanaman padi, sejak fase vegetatif hingga generatif pasca tanam yaitu hari ke 10, 20, 30 dan 40. Semprotkan pada pagi/sore hari, hindari penyemprotan pada siang hari.

Bahan:
Keong mas yang masih hidup (segar) 5 Kg.
Buah maja yang telah matang 2 buah, jika tidak ada dapat diganti dengan cairan tebu 1 liter
atau gula merah 1 Kg.
Air kelapa 10 liter.
Air biasa secukupnya.






Kegunaannya:
Sebagai pupuk daun Nitrogen (Urea).
Bahan:
Tong/Drum
Keong mas
Air gula
MOL Rebung Bambu
Cara Pembuatan:
Rebung bambu ditumbuk halus atau diiris-iris kemudian masukan kedalam ember atau tong plastik. Campurkan dengan buah maja yang sudah dihaluskan. Tambahkan gula merah yang telah dihaluskan dan aduk sampai rata. Rendam dengan air cucian beras sebanyak 5 liter. Tutup rapat ember/tong dengan plastik, dan berikan slang plastik yang disambungkan dengan air yang berada pada botol. Biarkan selama 15 hari.

Cara Penggunaan:
1.Pengomposan; dapat digunakan sebagai dekomposerdengan konsentrasi 1:5 (artinya 1 liter cairan MOL dicampur dengan 5 liter air tawar), tambahkan gula merah 1 ons dan aduk hingga rata, siramkan pada saat proses pembuatan kompos.
2.Pengunaan pada tanaman; penyemrotan dilakukan pada pagi/sore hari dengan konsentrasi 400 cc cairan dicampur dengan 14 liter air tawar pada umur 10, 20, 30 dan 40 hari setelah tanam.
Bahan:
Rebung bambu 10 kg
Air beras 5 liter
1 buah maja yang sudah matang, jika tidak ada dapat diganti dengan gula merah 1,5 ons.
Ditambah dengan air biasa secukupnya.
Kegunaannya:
Sebagai zat perangsang pertumbuhan pada fase vegetatif.

MOL Batang Pisang
Cara Pembuatannya
Batang pisang dipotong potong atau ditumbuk, dimasukkan kedalam drum atau ember lalu dicampur dengan gula, air beras ditambah air lalu ditutup rapat selama 21 hari. Diletakkan ditempat yang tidak kena sinar matahari.

Cara pemakaian
1.Campurkan air permentasi bongkol pisang yang sudah jadi dengan air bersih dengan perbandingan 1:5. Kemudian semprotkan ketanaman.
2.Untuk pembuatan kompos Cara pemakaian campurkan air permentasi bongkol pisang yang sudah jadi dengan air bersih dengan perbandingan 1:5.
3.Kemudian semprotkan ketanaman dan bisa untuk pembuatan kompos.
Kegunaannya:
Mengandung Fosfor untuk Pertumbuhan Batang

MOL Urine Kelinci, Sapi, Kerbau dll
Cara Pembuatan:
Berenuk dihaluskan dan campurkan bersama dengan Urine kelinci. Simpan ditempat drum/tong plastik Tutup dengan plastik, beri lubang udara dengan cara memasukan slang plastik yang dihubungkan dengan botol yang sudah terisi air. Biarkan selama 15 hari.

Cara Pengunaan
Pengomposan; dapat digunakan sebagai dekomposer dengan konsentrasi 1:5 (artinya 1 liter cairan MOL dicampur dengan 5 liter air tawar),tambahkan gula merah 1 ons dan aduk hingga rata, siramkan pada saat proses pembuatan kompos.
Penggunaan pada tanaman; semprotkan pada berbagai jenis tanaman dengan konsentrasi 400 cc dicampur dengan 14 liter air tawar. Pada tanaman padi, sejak fase vegetatif hingga generatif pasca tanam yaitu hari ke 10, 20, 30 dan 40 Semprotkan pada pagi/sore hari, hindari penyemprotan pada siang hari.
Bahan:
Urine kelinci 60 liter
Berenuk/Maja 40 buah
Kegunaannya :
Sebagai zat perangsang tumbuh


MOL Sabut Kelapa.
Cara Pembuatannya
Sabut kelapa yang sudah kering dippotong atau dicincang lalu direndam dengan air tanpa dicampur bahan lain. Direndam selama 21 hari sampai air berubah menjadi warna merah coklat. Sudah siap diaplikasikan.

Cara penggunaannya
Campurkan dengan air dengan perbandingn1: 5 lalu semprotkan ketanaman ( untuk padi pada masa generatif)

Kegunaannya:
Untuk pengganti pupuk KCL yang berfungsi sebagai pembentukan bunga, dan buah

Bahan
Sabut kelapa yang sudah kering.
Tempat untuk permentasi
Air secukupnya.

Mol Daun Gamal
Cara Pembuatannya:

Daun gamal yang masih segar ditumbuk halus atau diiris-iris kemudian masukan kedalam ember atau tong plastik. Tambahkan gula merah atau sejenisnya yang telah dihaluskan dan aduk sampai rata. Rendam dengan air cucian beras sebanyak, tambahkan air secukpnya. Tutup rapat ember/tong dengan plastik, dan berikan slang plastik yang disambungkan dengan air yang berada pada botol. Biarkan selama 15 hari.

Cara Penggunaan:
1.Pengomposan; Cairan/ekstrak (MOL) daun gamal dicampur air dengan konsentrasi 1:5 (artinya 1liter cairan MOL dicampur dengan 5 liter air tawar), aduk hingga rata dan siramkan pada bahan bahan organik yang akan dikomposkan untuk mempercepat pengomposan.
2.Penggunaan pada tanaman; semprotkan pada berbagai jenis tanaman dengan konsentrasi perbandingan 1:5 (artinya 1liter cairan MOL dicampur dengan 5 liter air tawar). Semprotkan pada semua jenis tanaman setiap seminggu sekali. Untuk tanaman padi, sejak fase vegetatif hingga generatif pasca tanam yaitu hari ke 10, 20, 30 dan 40. Semprotkan pada pagi/sore hari, hindari penyemprotan pada siang hari.


Catatan :
Bukan saja yang ada dalam catatan ini yang bisa dibuat MOL, melainkan masih banyak lagi seperti sampah ikan, tulang, kotoran sapi yang segar, darah nasi sisa, buah-buahan yang manis dll. Bahan-bahan inilah yang merupakan bahan dasar untuk MOL ditambah dengan gula merah atau yang sejenisnya ( air nira, air gula, air kelapa dan masih banyak yang bisa dijadikan sebagai sumber energi dari bakteri yang hidup dalam setiap bahan tersebut.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar