SELAMAT DATANG

Selasa, 01 November 2011

PENGENDALIAN HAMA TERPADU

Pengendalian hama terpadu (PHT) merupakan cara pengelolaan pertanian dengan setiap keputusan dan tindakan yang diambil selalu bertujuan meminimalisasi serangan OPT, sekaligus mengurangi bahaya yangditimbulkannya terhadap manusia, tanaman, dan lingkungan. Sistem PHT memanfaatkan semua teknik dan metode yang cocok (termasuk biologi, genetis, mekanis, fisik, dan kimia) dengan cara seharmoni mungkin, guna mempertahankan populasi hama berada dalam suatu tingkat di bawah tingkat yang
merugikan secara ekonomis. Dengan demikian, biaya perlindungan tanaman dapat di kurangi, terlebih lagi apabila pengendalian OPT menggunakan pestisida hayati, sehingga dampak negatif terhadap produk hortikultura dari residu pestisida dan pencemaran lingkungan hampir tidak ada. Implementasi PHT di Indonesia secara nasional di mulai sejak di keluarkannya Inpres No. 6 tahun 1986, kemudian di ikuti dengan Undang-undang No. 12 tahun 1992.
Beberapa langkah atau taktik untuk tindakan perlindungan tanaman dari serangan OPT dengan sistem PHT, sehingga pengembangan agribisnis dengan usahatani non sintetik bisa di
laksanakan, antara lain sebagai berikut :
a. Budidaya tanaman ;
- pengolahan tanah yang baik,
- penggunaan pupuk kandang,
- melakukan pemulsaan,
- mengatur pengairan,
- mengatur jarak tanam,
- menanamsecara tumpang sari (bertanam ganda),
- melakukan rotasi tanaman,
- menanam tanaman perangkap/penarik,
- menanam tanaman naungan,
- menggunakan benih yang sehat dan bersih dari kontaminasi OPT.
b. Fisik/mekanis ;
- menghasilkan sumber infeksi (dicabut/dipetik),
- menggunakan peralatan yang bersih,
- memasang perangkap mekanis,
- pembakaran sumber infeksi,
- menggunakan alat penimbul suara-suara (menolak hama).
c. Biologis
- introduksi atau pelestarian musuh alami,
- penggunaan/eksploitasi benih tahan hama dan penyakit,
d. Kimiawi ;
- penggunaan pestisida dari tumbuhan/nabati,
- penggunaan pestisida kimia sintesa/buatan,
e. Pasca panen ; melakukan penyimpanan/penanganan pasca panen yang tepat
Contoh-contoh penerapan PHT pada tanaman hortikultura khususnya pada tanaman sayuran dapat dijelaskan berikut ini.
1. Pengelolaan ekosistem dengan cara budidaya
Pengelolaan ekosistem yang baik akan membuat pertanaman hortikultura memiliki “ketahanan lingkungan”. Hal ini disebabkan karena pertumbuhan tanaman tidak sesuai dengan siklus perkembangan OPT, iklim mikro atau kurang sesuai secara nutrisi, dan populasi musuh alami meningkat serta lebih beragam.
• Tumpangsari tomat – kubis dapat menolak ngengat betina Plutella xylostella (L.)
meletakkan telur pada tanaman kubis.
• Penggunaan mulsa plastik hitam – perak pada pertanaman cabai dapat mengurangi serangan hama Trips parvispinus Karny dan kutu daun persik (Myzus persicae Sulzer).
• Menjaga kebersihan kebun (sanitasi) dapat mengurangi serangan penyakit tular tanah dengan pencabutan :
- Bonggol (tunggul) tanaman kubis : penyakit akar bengkak (Plasmodiphora brassicae Wor.).
- Tanaman Solanaceae (tomat, kentang, cabai) :
penyakit layu bakteri (Ralstonia solanacearum) atau layu fusarium (Fusarium sp.).
• Penanaman “Rape” (Brassica campestris ssp. oleifera) sebagai tanaman pinggiran yang
dapat berfungsi sebagai perangkap hama P. xylostella, sehingga populasi parasitoid
Diadegma semiclausum (Hellen) meningkat.
2. Penanaman varietas tahan
• Kentang varietas Hirta dan Klon Atzimba x R. 126 toleran terhadap busuk daun
(Phytophthora infestans).
• Kentang klon : CIP.86 – 136, CIP 87.282, CIP 387.169.14, K. 419.8.GT, dan K. 432.5 GT
tahan terhadap lalat pengorok daun (Liriomyza huidobrensis) (Setiawati dkk. 1988).
• Kentang Klon No. 17 (varietas Merbabu) dan Klon No. 08 tahan terhadap hama pengorok
daun dan penyakit busuk daun (Balitsa 1999).
Beberapa varietas / klone sayuran tahan terhadap hama dan penyakit seperti tercantum pada
Lampiran 2.
3. Pengendalian hayati
Beberapa cara pengendalian hayati yang dapat dilakukan yaitu ;
• Pemanfaatan musuh alami setempat dengan cara menciptakan lingkungan yang mendukung semakin berfungsinya musuh-musuh alami (parasitoid, predator, dan patogen penyakit) secara maksimal.
• Pemasukan, peningkatan populasi musuh alami secara buatan dan perbanyakan musuhmusuh alami hama.
• Perbanyakan dan penyebaran patogen penyakit hama seperti virus, cendawan dan bakteri.
Contoh :
- D. semiclausum dan Cotesia plutella Kurdj.
Merupakan parasitoid penting hama P. xylostella pada tanaman kubis dan Brassica lainnya.
- Patogen penyakit penting pada larva Spodoptera exigua adalah Se-NPV, pada S. litura (F.) adalah SI-NPV, pada larva Helicoverpa armigera Hbn. adalah Ha-NPV, dan pada larva P.
operculella adalah PoGV.
- Kumbang Cocconella spp. adalah predator beberapa jenis kutu daun.
- Patogen penyakit tular tanah layu Fusarium spp pada tanaman sayuarn, pisang dan tanaman buah lainnya adalah cendawan antagonis Trichoderma spp dan Gliocladium sp. Cara perbanyakan dan penggunaan cendawan Trichodemma spp, Gliocladium sp dan virus Se-NPV.
4. Pengendalian secara mekanik
Beberapa cara pengendalian mekanik yang dapat diterapkan yaitu :
• Pengumpulan telur, larva, dan pupa dengan tangan.
- Pengumpulan telur ulat krop kubis (Crocidolomia binotalis Zell.)
- Pengumpulan telur dan larva S. exigua dan S. litura.
• Pengurungan atau penggunaan kasa nylon plastik.
- Pemasangan kelambu mencegah masuk lalat pengorok daun L. chinensis dan S. exigua pada bawang merah
- Pemasangan kasa plastik pada rumah kaca mencegah masuk hama trips spp, kutu kebul.
Bemicia tabaci, L. huidobrensis.
• Penggunaan perangkap hama dewasa.
- Perangkap likat warna biru, putih atau untuk mengendalikan hama Trips spp. dan lalat pengorok daun kentang (L. huidobrensis).
- Perangkap tangga pohon, yaitu mengolesi pohon bagian bawah dengan ter dan bagian atas dengan perekat, sehingga larva hama tidak bisa merayap ke atas pohon.
Teknik operasional pemasangan perangkap
- Perangkap Feromonoid Seks untuk hama penggerek umbi kentang (Pthorimaeae operculella Zell.) serta S. exigua dan S. litura.
5. Penggunaan pestisida nabati
Ada dua macam selektivitas pestisida nabati, yaitu :
• Selektivitas fisiologis, contohnya : formulasi insektisida Bacillus thuringiensis,
• Selektivitas ekologis, artinya penggunaan pestisida pada saat yang tepat, yaitu bila populasi hama berada pada stadia muda. Dapat juga didasarkan pada cara kerja insektisida nabati tersebut.
- Bacillus thuringiensis, mengendalikan P. xylostella dan C. binotalis pada kubis
- Ramuan Nimba (Azadirachta indica) Lengkuas (Zingiber aromaticum), dan Serai (Andropogon nardus), mengendali-kan belalang, Kutu daun, Trips dan Aphid.
- Daun Sirsak, mengendaliak Trips pada cabe.
- Daun/sulingan minyak Selasih (Ocimum sanctum)mengen-dalikan lalat buah.
- Sulingan minyak lengkuas, mengendalikan lalat buah dan penyakit Antraknose pada cabe.
- Daun Pamor-pamor/Ki tolod (Laurentia longiflora), me- gendalikan Aphid, dan Kutu daun Contoh-contoh membuat ramuan pestisida nabati dan penggunaannya .
6. Pemantauan populasi hama (OPT)
Pemantauan atau pengamatan OPT secara rutin (mingguan) perlu dilakukan untuk mengetahui posisi populasi hama terhadap Ambang Pengendalian (Ambang Ekonomi) hama. Bila populasi hama mencapai/melampaui Ambang Pengendaliannya, perlu dilakukan aplikasi pestisida nabati. Contoh Ambang Pengendalian (AP) dengan pestisida kimia (bahan patokan untuk kimia nabati) adalah:
• AP hama P. xylostella adalah 5 larva instar III / IV per 10 tanaman kubis (0,5 larva /
tanaman).
• AP C. binotalis adalah 3 paket telur per 10 tanaman kubis (0,3 paket telur / tanaman).
• AP P. operculella adalah 20 larva per 10 tanaman kentang (0,2 larva / tanaman).
AP hama S. exigua adalah 1 paket telur per 10 tanaman (rumpun) bawang merah.
4. Pola Tanam
Penanaman secara organik dapat dilakukan dengan sistem monokultur atau polikultur. Dari kedua sistem tersebut, polikultur paling banyak digunakan karena memiliki banyak kelebihan.
1. Monokultur
Monokultur adalah menanam satu jenis tanaman pada lahan dan waktu yang sama. Kelebihan sistem ini yaitu teknis budidayanya relatif mudah karena tanaman yang ditanam maupun yang dipelihara hanya satu jenis. Di sisi lain, kelemahan sistem ini adalah tanaman relatif mudah terserang hama maupun penyakit.
2. Polikultur
Polikultur adalah menanam lebih dari satu jenis tanaman pada lahan dan waktu yang sama. Dengan pemilihan tanaman yang tepat, sistem ini dapat memberikan beberapa keuntungan, antara lain sebagai berikut :
a. Mengurangi serangan OPT, karena tanaman yang satu dapat mengurangi serangan OPT lainnya. Misalnya bawang daun dapat mengusir hama aphids dan ulat pada tanaman kubis karena mengeluarkan bau allicin,
b. Menambah kesuburan tanah. Dengan menanam kacang-kacangan- kandungan
unsur N dalam tanah bertambah karena adanya bakteri Rhizobium yang terdapat dalam bintil akar. Dengan menanam yang mempunyai perakaran berbeda, misalnya tanaman berakar dangkal ditanam berdampingan dengan tanaman berakardalam, tanah disekitarnya akan lebih gembur.
c. Siklus hidup hama atau penyakit dapat terputus, karena sistem ini dibarengi dengan rotasi tanaman dapat memutus siklus OPT,
d. Memperoleh hasil panen yang beragam. Penanaman lebih dari satu jenis tanaman akan menghasilkan panen yang beragam. Ini menguntungkan karena bila harga salah satu komoditas rendah, dapat ditutup oleh harga komoditas lainnya.
Apabila pemilihan jenis tanaman tidak sesuai, sistem polikultur dapat memberi dampak negatif, misalnya :
• Terjadi persaingan unsur hara antar tanaman,
• OPT banyak sehingga sulit dalam pengendaliannya.
Macam polikultur
Dalam sistem polikultur, dikenal beberapa istilah yang pengertiannya hampir sama, yaitu menanam lebih dari satu jenis tanaman pada lahan yang sama, antara lain :
a. Tumpang gilir (multiple cropping) : menanam lebih dari satu jenis tanaman pada lahan yang sama, selama satu tahun untuk memperoleh lebih dari satu hasil panenan,
b. Tanaman pendamping (companion planting) : dalam satu bedeng ditanam lebih dari satu tanaman sebagai pendamping jenis tanaman lainnya. Tujuannya untuk saling melengkapi dalam kebutuhan fisik dan unsur hara, karena itu pemilihan tanaman perludiperhatikan, misalnya tanaman yang perakarannya dalam dapat mengurangi kepadatan tanah dan menambah kesuburan tanah dengan tambahnya bahan organik sehingga berguna bagi tanaman pendamping yang perakarannya dangkal. Tanaman kenikir sering dijadikan tanaman pendamping karena mempunyai akar yang mengeluarkan senyawa tiophen yang dapat mematikan nemattoda.
c. Tanaman campuran (mixed croping) : menanam lebih dari satu jenis tanaman pada suatu lahan dan dalam waktu yang sama. Misalnya menanam tomat dan kubis dalam satu bedeng dapat mengurangi ngengat tritip (Plutella maacultipenis) yang merusakmkubis. menolak ngengat betina Plutella xylostella (L.) meletakkan telur pada tanaman kubis.
d. Tumpang sari (intercropping dan interplanting) : menanam lebih dari satu jenis
tanaman pada suatu lahan dan dalam waktu yang sama dengan barisan-barisan teratur,
e. Penanamanlorong (alley cropping) : menanam tanaman yang berumur pendek,
misalnya wortel, slada, terung, diantara larikan tanaman yang dapat tumbuh cepat dan tinggi serta berumur tahunan, misalanya turi, gamal, kaliandra, lamtoro, dan daun kupu-kupu. Keuntungan penanaman seperti ini akan meninggalkan nitrogen tanah, mengurangi gulma, mencegah erosi, meningkatkan penyerapan air tanah, dan meningkatkan kelembapan tanah.
f. Pergiliran tanaman (rotasi tanaman) : menanam jenis tanaman yang tidak sefamili secara bergiliran (bergilir). Tujuan cara ini untuk memutus siklus hidup OPT.
Contohnya, kubis famili Cruciferae – selada famili Composidae – bawang merah famili Aliaceae – wortel famili Umbelliferae – terung famili Solanaceae – kedele famili Leguminaceae – jagung famili Graminae – kangkung famili Convolvulaceae – mentimun famili Cucurbitaceae – okra famili Malmavaceae. Jenis tanaman untuk polikultur Dalam sistem polikultur, pemilihan jenis tanaman menjadi sangat penting karena tanaman yang tidak sesuai dapat menyebabkan kerugian, misalnya tanaman akan berebut unsur hara, adanya tanaman lain akan mendatangkan hama dan penyakit baru, maupun pertumbuhan tanaman saling terhambat.
Beberapa hal yang perlu mendapat perhatian dalam memilih jenis tanaman antara lain sebagai berikut.
1) Sosok tanaman dan kebutuhan sinar matahari
Tanaman akan hidup baik bila mendapat sinar matahari. Namaun banyaknya sinar matahari untuk tiap tanaman berbeda. Umumnya, tanaman yang menghasilkan bunga atau buah membutuhkan sinar matahari penuh (tidak ternaungi), sedangkan tanaman yang menghasilkan daun masih dapat tumbuh dengan cahaya yang sedikit. Misalnya buncis merambat dan kapri membutuhkan sinar yang banyak, sedangkan selada dan seledri masih hidup di bawah naungan. Dengan demikian, selada atau seledri dapat ditanam di antara tanaman buncis, merambat atau kapri.
2) Kebutuhan unsur hara
Berdasarkan kebutuhan unsur hara, tanaman dapat dikelompokkan menjadi tiga sebagai berikut.
a) Tanaman yang memerlukan unsur hara nitrogen lebih banyak, disebut heavy feeders. Misalnya kubis, selada, bayam, jagung, dan labu.
b) Tanaman yang memerlukan unsur hara nitrogen lebih sedikit daripada kalium, disebut light feeders. Yang termasuk kelompok ini umumnya tanaman penghasil umbi seperti bawang merah, lobak, ubi kayu, wortel, dan ubi jalar.
c) Tanaman penghasil nitrogen atau tanaman yang dapat mengikat nitrogen dari udara dengan bantuan bakteri Rhizobium, disebut soil builders. Tanaman yang termasuk kelompok ini yaitu tanaman dalam keluarga Leguminosae, misalnya kacang tanah, kedelai, buncis, kacang hijau, dan kara. Dengan menggabungkan ketiga kelompok tanaman tersebut, dapat diperoleh hasil yang tinggi karena antar-tanaman tidak terjadi perebutan unsur hara.
3) Sistem perakaran
Sistem perakaran setiap tanaman berbeda, ada yang dalam, dangkal, melebar, rimbun, dan sebagainya.Sistem perakaran ini penting untuk menentukan jarak tanam dan memilih jenis tanaman. Tanaman yang dipilih sebaiknya yang mempunyai perakaran yang berbeda bila akan ditanam berdekatan. Misalnya wortel dan bawang merah, buncis dan selada, kedelai dan daun bawang, cabai dan daun bawang.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar